LEBAK, 27 Juli 2026 - Di tengah gempuran era digital yang menuntut segala sesuatu serba cepat dan terhubung secara daring, ada satu sudut di Kampung Pulokempis, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, yang justru bertahan dengan cara yang jauh lebih sunyi: menempa besi menjadi golok, satu demi satu, dengan tangan.
Usaha ini dikenal dengan nama Golok Pandai Besi Amsori, milik Bapak Amsori, seorang pengrajin golok yang telah menekuni profesi ini sejak lama bahkan menurut penuturannya sendiri, usaha ini sudah berjalan sejak pertengahan dekade 1990-an. Durasi yang panjang itulah yang membuat nama bengkelnya dikenal luas, tidak hanya di satu kecamatan, melainkan menjangkau pelanggan dari berbagai daerah.
*Usaha Kecil dengan Pasar yang Sudah Mengakar*
Menurut Amsori, persoalan pemasaran sebenarnya bukan lagi kendala utama. Nama bengkelnya sudah cukup dikenal berkat durasi usaha yang panjang, sehingga pelanggan datang dengan sendirinya tanpa perlu promosi besar-besaran. "Kalau soal pasar, alhamdulillah sudah bagus, seiring dengan waktu yang lama," ujarnya.
Namun demikian, keterbatasan justru datang dari sisi lain: kapasitas produksi dan permodalan. Amsori mengaku belum berani memasarkan produknya secara daring, bahkan sekadar memasang poster promosi di depan bengkelnya pun ia enggan. Alasannya sederhana; kemampuan produksinya masih terbatas, dan ia khawatir promosi besar tanpa didukung kapasitas yang memadai justru akan menimbulkan kesan bahwa usahanya hanya "janji tanpa bukti".
"Satu-satunya jalan ya harus ada dana," katanya, merujuk pada kebutuhan modal untuk memperluas fasilitas dan menambah tenaga kerja.
*Produksi Manual, Bergantung pada Pesanan yang Datang*
Dalam sebulan, produksi golok di bengkel Amsori berkisar sekitar 150 bilah, dengan asumsi rata-rata lima bilah per hari. Angka itu jauh dari kapasitas industri, namun cukup untuk menopang usahanya yang memang berskala kecil; mulai dari kalangan sopir truk yang bepergian ke berbagai daerah seperti Lampung dan Jakarta hingga masyarakat sekitar.
Harga tiap golok bervariasi, bukan berdasarkan jenis baja semata, melainkan tingkat kesulitan pembuatan dan jenis produknya. Bengkel ini tidak hanya memproduksi golok, tetapi juga aneka alat tempa lain seperti pisau, arit, dan gobek. Beberapa varian golok yang biasa dipesan antara lain golok bedog, golok bedog adat, golok seren, hingga golok serulit ; masing-masing memiliki tingkat kerumitan pengerjaan yang berbeda, terutama pada bagian gagang.
Salah satu anggota keluarga yang turut membantu dalam wawancara menjelaskan bahwa membuat gagang golok dengan model bertingkat (selangkah-selangkah) relatif mudah, tetapi model gagang serulit membutuhkan proses dan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi.
*Bayang-Bayang Kompetitor yang Lebih Besar*
Amsori juga menyinggung keberadaan pengrajin lain dengan skala usaha yang jauh lebih besar, yang dikenal dengan nama dagang "Golok Langit". Bengkel tersebut disebut memiliki sepuluh tenaga ahli dengan upah harian yang mencapai sekitar satu juta rupiah, fasilitas produksi yang lengkap, serta modal yang memadai. Golok kualitas tinggi dari bengkel itu, lengkap dengan ukiran khas seperti lambang Garuda dan Bhinneka Tunggal Ika, dibanderol hingga Rp15 juta per bilah.
Amsori pernah menyambangi tempat tersebut untuk melihat langsung proses produksinya. Ia mengakui, tanpa dukungan modal dan fasilitas serupa, sulit bagi usahanya untuk bersaing pada segmen pasar yang sama. Ia sendiri mengaku belum pernah diajak mengikuti pameran, dan menilai keikutsertaan dalam pameran bukan sesuatu yang menjadi prioritas, karena menurutnya konsumen loyalnya tidak datang lewat jalur pameran.
*Regenerasi dan Keterbatasan Tenaga Kerja*
Ketika ditanya mengenai kemungkinan mengajarkan keterampilan menempa golok kepada generasi baru, Amsori menyebut hal itu sebenarnya bisa dilakukan. Namun ia menghadapi kendala klasik: keterbatasan tenaga kerja di bengkelnya sendiri, yang menurutnya saat ini praktis hanya mengandalkan dirinya dan sedikit bantuan keluarga.
Ia menekankan bahwa usahanya termasuk dalam kalangan kecil yang selama ini bertahan bukan karena skala besar, melainkan karena faktor kepercayaan pelanggan yang terbentuk dari lamanya usaha ini berjalan. Wilayah tempat bengkelnya berada disebut sebagai satu-satunya sentra pandai besi yang masih aktif di kecamatan tersebut, berbeda dengan wilayah selatan Lebak yang menurutnya sudah lebih banyak beralih ke kawasan permukiman.
*Warisan Pandai Besi Banten yang Lebih Luas*
Kisah Amsori merupakan potret kecil dari industri pandai besi golok yang telah lama menjadi identitas Banten, khususnya kawasan Lebak dan sekitarnya. Secara umum, jenis-jenis golok yang diproduksi oleh para pengrajin di wilayah ini cukup beragam, di antaranya:
- Golok Ciomas Klasik – model bilah melengkung dengan gagang kayu.
- Golok Ciomas Ukir – sarung dan gagang bermotif ukiran.
- Golok Pusaka Banten – model ukiran untuk koleksi.
- Golok Petani Banten – model sederhana untuk aktivitas sehari-hari.
- Golok Parang Banten – bilah lebih panjang dan melengkung.
- Golok Macan Banten – nama dagang yang memberi kesan gagah.
- Golok Rajawali – cocok untuk model ukiran.
- Golok Badak Banten – kesan kokoh dan kuat.
- Golok Kujang Banten – nama khas untuk koleksi bernuansa tradisional.
Ragam jenis golok tersebut menggambarkan betapa kayanya tradisi pandai besi di Banten, mulai dari golok untuk kebutuhan praktis petani dan pekerja harian hingga golok pusaka bernilai koleksi tinggi. Di tengah keragaman itu, usaha seperti milik Amsori di Pulokempis menjadi representasi para pengrajin kecil yang mempertahankan keahlian turun-temurun, kendati harus berjuang dengan keterbatasan modal, fasilitas, dan akses pasar yang lebih luas.
Bagi Amsori dan pengrajin sejenisnya, harapan ke depan sederhana namun jelas: memiliki fasilitas produksi yang lebih memadai layaknya sebuah pabrik kecil, dengan hasil yang konsisten dan tidak berubah-ubah kualitasnya. Sebuah harapan yang, menurutnya sendiri, sah-sah saja untuk terus dipupuk
//Pul_Red


